Nama : Wahyu
Aji Galih Muslim
NIM :
175231074
Kelas : PBS 2B
Resume
Buku METODOLOGI STUDI ISLAM
Penulis: Aris Widodo, M.A
Sisi Filosofis Al-Qur’an:
Beberapa Kisah Ilustrasi
1. Logika
dalam Al-Qur’an: Dimensi Praktis
Secara teoritis, Al Qur’an memang tidak membicarakan
logika; namun secara praksis, Al-Qur’an telah banyak menerapkan prinsip-prinsip
logika dalam berbagai pokok-pokok permasalahan, misalnya ketika berbicara
tentang Tuhan. Ketika membawa perenungan tentang Tuhan, kitab suci umat Islam
ini tidak memberikan definisi secara langsung apa itu Tuhan. Yang diberikan
Al-Qur’an adalah menggambarkan beberapa karakteristik yang berkenaan
dengan-Nya.
2. Al-Qur’an
dalam Kajian Epistemologi
Dalam kaitannya dengan epistemology, Al Qur’an banyak
menyodorkan bahan-baku yang bisa menjadi titik-tolak perenungan filosofis.
Bahan baku yang disodorkan tersebut diantaranya diilustrasikan melalui kisah
Ratu Balqis dan Nabi Sulaiman. Dikisahkan bahwa ketika Ratu Balqish diajak
masuk oleh Nabi Sulaiman ke dalam istananya, maka tiba-tiba sang ratu
menyingkapkan kain yang menutupi betisnya. Hal ini dilakukannya karena dalam
pandangannya, lantai-istana yang sebetulnya terbuat dari kaca, terlihat
seolah-olah adalah kolam air yang besar.
3.
Kajian Kosmologi
Berkaitan dengan kosmologi, Al-Qur’an banyak
menyodorkan proposisi-proposisi yang bersifat saintifik. Misalnya mengenai
masalah bagaimana alam semesta ini lahir dan apakah alam semesta itu bersifat
statis ataukah mengembang.
4.
Bidang Metafisika
Jika metafisika dimaknai dengan realitas dibalik alam
fisik, maka sebetulnya Al-Qur’an banyak sekali menyinggung persoalan ini,
bahkan Al-Qur’an sendiri pada awalnya melalui proses metafisis.
5.
Kajian Etika
Salah satu persoalan utama dalam etika adalah apa yang
sesungguhnya menggerakkan manusia untuk melakukan aktivitas; apa motivasi dasar
mereka, dan apa yang mereka kejar? Untuk memulai pembahasan filosofis mengenai
persoalan ini kita bisa mengambil beberapa ilustrasi Al-Qur’an mengenai
karakteristik orang munafik dan orang beriman dalam melakukan suatu aktifitas,
misalnya dalam hal melaksanakan shalat, mengapa orang munafik berdiri dengan
malas sementara orang beriman melakukan shalat dengan penuh kekhusukan.
6.
Estetika
Kisah yang sangat menarik dalam Al-Qur’an kaitannya
dengan nilai estetis adalah tentang Zulaikha beserta komunitas kaum hawa-nya
dan Nabi Yusuf. Seperti diceritakan bahwa Zulaikha terperangkap oleh pesona
keindahan yang mewujud dalam diri Nabi Yusuf, sehingga berupaya untuk merayunya
agar Zulaikha bisa merasakan keindahan itu, akan tetapi rayuan Zulaikha ditolak
oleh Nabi Yusuf.
Tauhid
Sosial sebagai Basis Pendidikan Islam: Sebuah Artikulasi Filosofis-Qur’ani
1.
Pohon Realitas: Sebuah Ilustrasi dari Al-Qur’an
Al-Qur’an memberi ilustrasi mengenai sebuah pohon
realitas, baik realitas kebaikan maupun realitas keburukan. Kita bisa
mengetahui bahwa tauhid merupakan pintu gerbang masuknya orang ke dalam agama
Islam, yang juga merupakan sebuah pohon kebaikan. Sementara syirik dan kufur
merupakan pohon realitas yang buruk. Dengan demikian, ketika kita berbicara
mengenai pendidikan Islam, yang merupakan salah satu cabang dari pohon
kebaikan, harusnya kita bisa menjadikan tauhid sebagai paradigmanya.
2.
Tauhid Sosial, Perluasan Cakupan Kesalehan
Ada beberapa intelektual Muslim Indonesia yang merasa
perlu mengartikulasi bagaimana tauhid yang bernuansa teologis bisa connect
dengan kehidupan Muslim yang bernuansa insaniyah. Misalnya seseorang dari
golongan Muhammadiyah dan seseorang dari golongan NU. Ada sebagian masyarakat
Muslim yang mengukur kesalehan dari dimensi vertikal saja. Seseorang dikatakan
saleh manakala, misalnya, shalatnya bagus, sering puasa, dan haji berkali kali.
Namun dari segi lain, dalam kaitannya dengan dimensi horisontal, orang tersebut
masih sering merugikan orang lain dalam mu’amalahnya. Inilah yang kemudian
mengilhami pemikir-pemikir diatas untuk mengusahakan bagaimana agar dimensi
vertikal bisa saling berkaitan dengan dimensi horisontal.
3.
Tauhid Sosial: Basis Pendidikan Islam
Sumber pengetahuan manusia, dengan berbagai
perantaranya adalah Tuhan. Maka kita bisa menyatakan bahwa sumber dari
pendidikan Islam juga tauhid, karena semuanya merujuk kepada satu Tuhan. Dengan
demikian, pendidikan Islam mesti melakukan imitasi dalam hal ini, yaitu menjadikan
tauhid yang berdimensi sosial sebagai paradigmanya.
Persatutubuhan sebagai
Simbol Pola Relasi Laki-laki dan Perempuan: Sebuah Konsep Kesetaraan Gender
dalam Al-Qur’an
1.
Perempuan dalam Sejarah Peradaban Barat
Setelah Perang Dunia kedua, kondisi ekonomi di Eropa
yang mulai membaik memberi angin segar bagi maraknya gerakan fenimisme radikal,
yang menuntut terbukanya peluang karier yang seluas-luasnya bagi perempuan.
Melalui gerakan fenimisme radikal ini, berkembang isu-isu penentangan terhadap
“seksisme” (diskriminasi berdasar jenis kelamin) dan “patriarkhi” (dominasi
pria pada wanita). Isu isu seperti ini sekarang banyak mengilhami para pemikir
Muslim Indonesia untuk memakai perspektif ini dalam meneropong ajaran-ajaran
Islam, seperti tampak dalam tulisan Nasaruddin Umar dan Siti Musdah Mulia.
2.
Konsep Kesetaraan Gender Pemikir Muslim Indonesia
Nasaruddin Umar dan Siti Musdah Mulia mengemukakan
bahwa posisi laki laki dan perempuan adalah setara, yakni sebagai hamba Allah.
3.
Konsep Alternatif tentang Pola Relasi Laki-laki dan
Perempuan
Seorang intelektual asal Iran, Murtadha Muthahhari
menegaskan bahwa Al-Qur’an sudah menggariskan posisi laki-laki dan perempuan
dalam kedudukannya masing-masing secara proporsional. Muthahhari menulis,
“wanita dan pria adalah sama-sama manusia dan keduanya mendapatkan hak yang
sama dan setara”.
Teka-teki
Kekekalan Akhirat: Apresiasi atas Pemikiran Agus Mustofa
1.
Mengenal Proyek Agus Mustofa
Dalam upayanya untuk “menghidupkan” corak
keberagamaan, dia mengajak umat Islam untuk menganalisa dan mendiskusikan
informasi-informasi Al-Qur’an dengan bantuan teori-teori ilmiah dari sains
modern sekarang ini. Maka di bukunya yang berjudul Ternyata Akhirat tidak Kekal,
Agus Mustofa selalu berupaya menghubungkan ayat-ayat Al-Qur’an dengan
temuan-temuan sains modern.
2.
Pemikiran Agus Mustofa tentang Ke-tidak-kekal-an
Akhirat
Dari hasil peneropongannya tentang akhirat, Agus
Mustofa menyimpulkan bahwa semua kehidupan manusia, baik di dunia sekarang ini
maupun di akhirat nanti, akan dijalani di bumi. Dengan demikian, kehidupan
syurga dan neraka yang merupakan fase kehidupan di akhirat juga dijalani di
bumi. Oleh karena bumi tersebut suatu saat akan mengalami kehancuran, maka konsekuensinya,
akhirat pun juga akan lenyap.
3.
Apresiasi atas Pemikiran Agus Mustofa
Tesis yang dikemukakan Agus Mustofa itu memiliki sisi
kuat dan sisi lemah. Berkaitan dengan tidak-kekal-nya akhirat, Agus Mustofa
menyatakan bahwa akhirat terlaksana sesudah kiamat bumi, dan kehidupan akhirat
akan berakhir dengan terjadinya kiamat semesta. Meskipun dari sisi
tidak-kekal-nya akhirat bisa saja diterima, karena yang kekal hanyalah Allah,
namun cara berakhirnya akhirat tersebut tidak bisa diterima, mengingat yang
disebut kiamat semesta bersamaan terjadinya dengan kiamat bumi.
Anasir
Filantropi dalam Prosesi Idul Fitri: Tunjauan Filsafat Hukum Islam dalam
Khazanah Ritual Islam
1.
Makna “Idul Fitri” dalam Perdebatan
Menurut Abdul Hakim, pemaknaan istilah “Idul Fitri”
sebagai “kembali ke fitrah (suci)” tidaklah tepat, karena pemaknaan demikian
tidak didukung oleh hadist-hadist tentang Idul Fitri.” Pendapat Adbul Hakim di
atas, dari satu sisi memang benar, karena Idul Fitri memang merupakan saat umat
Islam menghentikan aktivitas puasa Ramadhan dan kembali berbuka seperti
bulan-bulan sebelum dan sesudah Ramadhan. Namun di sisi lain, pendapat bahwa
Idul Fitri merupakan momentum kembali kepada kondisi suci bisa juga diterima,
mengingat banyak hadist yang berbicara tentang hasil akhir puasa yang
mengindikasikan bahwa pelakunya telah memasuki kondisi suci, sehingga akan
terbebas dari neraka.
2.
Fitrah sebagai Akhlaq
Al-Qur’an menginformasikan bahwa semua manusia
diciptakan dengan fitrah Allah. Hal ini dikuatkan oleh sebuah hadist: “semua
bayi dilahirkan di atas fitrah itu.” Dalam bahasa Arab, sebuah akar kata bisa
membentuk berbagai istilah yang bermacam-macam, namun biasanya masih berkaitan
artinya. Fitrah Allah juga bermakna “akhlaq Allah.” Hal ini dikuatkan oleh
sebuah hadist yang berseru, “Ber-akhlaklah kalian dengan akhlaq Allah.”
3.
Puasa, Sebuah Pembiasaan menuju Akhlaq Allah
Di antara akhlaq Allah adalah Ar-Rahman (maha pengasih) dan Ar-Rahim
(maha Penyayang), yang efeknya adalah Ar-Rahmah
(kasih sayang). Puasa berfungsi membangkitkan perasaan simpati kepada fakir
miskin, karena dengan berpuasa kita kita bisa merasakan-sendiri (empati)
bagaimana menderitanya mereka yang tidak mampu memenuhi kebutuhan hidupnya. Dengan
puasa sebulan lamanya, diharapkan perasaan simpati ini menjadi begitu kuat,
sehingga melahirkan sifat rahmah
(kasih sayang) terhadap orang-orang yang tidak mampu.
4.
Zakat Fitrah, Manifestasi berakhlaq dengan Akhlaq
Allah
Berzakat, selain bermakna mensucikan, juga berarti mensuburkan.
Jadi, zakat fitrah merupakan simbol telah tumbuh suburnya fitrah, yaitu sifat rahmah (kasih sayang) dalam diri orang
yang berpuasa, berupa perasaan simpati terhadap kaum papa dan kemudian mengulurkan
tangan untuk membantu mereka. Inilah yang dalam bahasa modern disebut sebagai
filantropi (kedermawanan).
5.
Filantropi Zahir dan Bathin
Filantropi zahir diantaranya dengan ber-infaq dan
filantropi bathin bisa kita wujudkan dengan memaafkan orang lain.